Thursday, July 30, 2015

Nikmatnya Ridla

Nikmatnya Ridha
Aqidah Islam menggariskan bahwa hitam putihnya warna hidup seorang anak manusia itu ada dalam genggaman kekuasaan Allah Ta’ala. Suratan hidup mereka sudah tergores pasti di dalam lauh mahfudz sejak zaman ‘azali silam. Tiada seorang pun yang mengetahui bagaimana suratan hidupnya yang belum terjadi. Yang bisa dilakukan olehnya hanyalah berusaha dan berikhtiar agar garis hidup yang akan dilewati adalah garis hidup yang berwarna putih belaka.

Garis putih adalah garis kesuksesan, kepuasan dan kebahagiaan, sementara garis hitam adalah garis kegagalan, musibah dan kesusahan.

Kalaupun, karena satu dua hal, ia harus menginjak garis hidup berwarna hitam, atau mungkin cuma sekedar kelabu, padahal ia sudah berusaha keras untuk tidak sampai menginjaknya, maka yang akan ia torehkan dalam hamparan semesta hatinya adalah warna warni keridhaan dan kerelaan terhadap semuanya. Sembari itu ia akan merenda rasa husnudz dzan kepada Sang Pelukis garis, Allah Rabbul ‘Adzim, sehingga ia tidak kehilangan rasa tsiqqah (percaya) kepada-Nya.
Salah satu diantara logika husnudz dzan yang ia senandungkan adalah :

“Ya Allah, boleh jadi aku membenci sesuatu, padahal itu baik bagiku. Dan boleh jadi aku mencintai sesuatu, padahal itu berbahaya bagiku. Sungguh Engkau Maha Mengetahui, sedangkan aku tidak mengetahui.” ( Diadaptasikan dari QS. Al Baqarah : 216)

Karena itu segala macam bentuk mushibah yang menimpa seorang muslim, sepanjang nuansanya adalah duniawi; entah kelaparan, kemiskinan, kegagalan, kecelakaan, penyakit dan lain sebagainya, tak akan bisa mengurangi, walau secuilpin, kebahagian hakikinya, yakni kebahagiaan dalam ujud kekayaan ruhani.

Bahkan dengan keridhaan terhadap berkurangnya kebahagiaan duniawi, akan menambah kelezatan kebahagiaan ruhaninya. Mengapa ? Karena terserabutnya sebagian dari kebahagian duniawi, bagi hamba-hamba beriman, itu lebih bermakna kaffarah (tebusan) bagi dosa dan kesalahan yang telah dilakukan di masa-masa kemarin. Dan tiadalah Allah mengurangi dunia seseorang, kecuali pada saat yang bersamaan Allah menambah akhiratnya.

Ridla berbeda dengan sabar. Sabar adalah menahan diri dari segala apa saja yang tidak disukai sembari berharap dia segera hilang. Sementara ridla berarti berlapang dada atas ketentuan Allah tersebut dan membiarkan menggelayuti dirinya, walaupun ketentuan tersebut sarat derita.
Sabar kepada ketentuan Allah akan membuat derita terasa ringan, sementara ridha terhadap taqdir Allah tersebut akan membuat derita terasa nikmat. Mengapa ? Karena ridha akan membuat hati seseorang dipenuhi oleh ruh ma’rifah dan yaqin. Bila ridla semakin menguat, maka akan semakin menguat pulalah ruh ma’rifah dan yaqinnya. Kuatnya ruh ma’rifah dan yaqin inilah yang membuat siapapun merasakan nikmat yang luar biasa, deritapun akan tertepis dan terabaikan.

Rasulullah SAW bersabda : “Sesungguhnya jika Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menguji mereka. Bila ia ridla maka Allah pun akan meridlainya. Namun bila dia kesal dan benci niscaya ia akan mendapatkan murka-Nya.”

Suatu saat Ali bin Abi Thalib menjumpai ‘Adiy bin Hatim tengah bersedih. Beliau bertanya : “Mengapa kamu bermuram durja seperti ini ?” ‘Adiy pun menjawab : “Apa tidak boleh ? Dua anakku terbunuh, mataku tercungkil ?!” Ali bertutur : “Wahai Adiy, barang siapa ridla terhadap Ketentuan Allah maka Ketentuan-Nya itu pasti akan berlaku untuknya dan dia mendapatkan pahala dari-Nya. Dan barang siapa yang tidak ridla terhadap Ketentuan-Nya, maka Ketentuan-Nya pun akan tetap berlaku untuknya dan ia kehilangan kebaikan atas ketidak-ridhaannya tersebut.”

Abu Darda’ mengunjungi seseorang yang menjelang ajalnya terus menerus memuji Allah. Abu Darda’ pun berujar : “Kamu benar, sungguh jika Allah Ta’ala menetapkan sesuatu, Dia senang jika diridhai.”

Hasan Al Bashry berkata : “Barang siapa ridla terhadap nasibnya, maka Allah akan meluaskan dan memberkahinya. Begitu pula sebaliknya.”

Umar bin Abdul Aziz berkata : “Aku tidak lagi memiliki kebahagiaan selain menerima apa yang ditaqdirkan untukku.” Ketika beliau ditanya : “Apa yang paling Tuan senangi ?” Beliau menjawab : “Semua yang ditetapkan oleh Allah ‘Azza wa Jalla.”

Abdul Wahid bin Zaid berkata : “Ridla adalah pintu gerbang terluas menuju Allah, juga surga dunia dan tempat istirahatnya para ahli ibadah.

Ya Allah, cukuplah menjadi kebahagiaan bagi kami, di kala kami selalu ridha dengan derita apapun yang Engkau “karuniakan” kepada kami. Jadikanlah keridhaan kami ini menjadi jalan bagi kami melabuhkan diri dalam Rengkuhan Ridha-Mu.

No comments:

Post a Comment

Monggo..
silahkan di isi komentarnya..
Siapapun boleh, en gak di gigit balik kok..